Agama Sebagai Fakta Sosial dan Motivator Tindakan Sosial

Agama Sebagai Fakta Sosial

Agama dapat ditelusuri hingga ribuan tahun silam. Bahkan, di dalam agama itu sendiri tak jarang ditemukan ajaran yang menyataka sudah seberapa lama eksistensi agama itu hadir dunia. Dengan rentang masanya yang begitu jauh tersebut, maka agama bukanlah hal yang baru dan merupakan fakta sosial. Lebih jauhnya, fakta sosial menurut para ahli adalah seperti berikut.
Menurut Dadang Kahmad, fakta sosial berangkat dari asumsi umum bahwa gejala sosial itu riil dan memengaruhi keadaan individu serta perilakunya yang berbeda dari karakteristik psikologis, biologis, atai karakteristik individu lainnya. Lebih lagi, karena gejala sosial merupakan fakta yang riil, gejala-gejala itu dapat dipelajari dengan metode empiris, yang memungkinkan satu ilmu tentang masyarakat dapat dikembangkan.[1]
Fakta sosial menurut Durkheim, terdiri dari dua macam:
a.       Bentuk materiel; yaitu sesuatu yang dapat disimak, ditangkap, dan diobservasi. Fakta sosial yang berbentuk material ini adalah dari dunia nyata (external world). Contohnya, arsitektur dan norma hukum.
b.      Bentuk nonmateriel; yaitu sesuatu yang dianggap nyata. Fakta sosial jenis ini merupakan fenomena yang bersifat intersubjektif yang hanya dapat muncul dalam kesadaran manusia. Contohnya, egoisme, altruisme, dan opini.[2]
Dilihat dari sudut pandang pemahaman manusia, agama memiliki dua segi yang membedakan dalam perwujudannya, yaitu sebagai berikut.
a.       Segi kejiwaan (psychological state), yaitu suatu kondisi subjektif atau kondisi dalam jiwa manusia, berkenaan dengan apa yang dirasakan oleh penganut agama. Kondisi inilah yang biasa disebut kondisi agama, yaitu kondisi patuh dan taat kepada yang disembah. Kondisi itu hampir sama dengan konsep “Religius Emotion” dari Emile Durkheim. Emosi keagamaan seperti itu merupakan gejala individual yang dimiliki oleh setiap penganut agama yang membuat dirinya merasa sebagai “makhluk Tuhan”. Dimensi religiositas merupakan inti dari keberagamaan. Inilah yang membangkitkan solidaritas seagama, menumbuhkan kesadaran beragama, dan menjadikan seseorang menjadi orang yang saleh dan bertakwa.
Segi psikologis ini sangat sulit diukur dan susah diamati karena merupakan milik pribadi pemeluk agama. Pengungkapan keberagamaan segi psikologis ini baru bisa dipahami ketika telah menjadi sesuatu yang diucapkan atau dinyatakan dalam perilaku orang yang beragama tersebut.
b.      Segi objektif (objective state), yaitu segi luar yang disebut juga kejadian objektif, dimensi empiris dari agama. Keadaan ini muncul ketika agama dinyatakan oleh penganutnya dalam berbagai ekspresi, baik ekspresi teologis, ritual, maupun persekutuan. Segi objektif inilah yang bisa dipelajari apa adanya dan, dengan demikian, bisa dipelajari dengan menggunakan metode ilmu sosial. Segi kedua ini mencakup adat-istiadat, upacara keagamaan, bangunan, tempat-tempat peribadatan, cerita yang dikisahkan, kepercayaan, dan prinsip-prinsip yang dianut suatu masyarakat.[3]
Dalam pemenuhan kebutuhannya, manusia tidak hanya membutuhkan sesuatu yang bersifat material biologis —seperti makan, minum, kawin, dan bertempat tinggal— tetapi juga sesuatu yang bersifat rohaniah, seperti rasa bahagia, berbakti, dan berekreasi.[4]
Dari pemaparan di atas, bukanlah tindakan yang arif mempermasalahkan aspek-aspek sosial yang bukan menjadi masalah sosial. Tindakan kompulsif dalam menerepkan keinginan akan kemajuan harus diimbangi dengan pemeliharaan aspek sosialnya seperti perbedaan ras, gaya hidup, budaya, dan agama yang bukan bagian dari masalah sosial. Demikian idealnya, kemajuan menyebabkan aspek-aspek di atas juga terpelihara dan dapat menghapuskan suatu keadaan negatif yang ditimbulkan dari berbagai latar belakaang tersebut.

Agama Sebagai Motivator Tindakan Sosial

Membicarakan agama dalam fungsinya sebagai motivator tindakan manusia (sosial), berarti mengulas kembali adanya perbedaan pandangan tentang definisi agama yang disebabkan perbedaan pemahaman dan penghayatan seseorang.[5]
Berbicara masalah agama memerlukan suatu sikap ekstra hati-hati, karena meskipun masalah agama merupakan masalah sosial, tetapi penghayatannya amat bersifat individual. Apa yang dipahami dan apa yang dihayati sebagai agama oleh seseorang, sangat bergantung pada latar belakang dan kepribadiannya. Hal ini membuat adanya perbedaan tekanan penghayatan dari satu orang ke orang lain, dan membuat agama menjadi bagian yang amat mendalam dari kepribadian atau privacy seseorang. Oleh karena itu, agama senantiasa bersangkutan dengan kepekaan emosional. Meskipun demikian, masih terdapat kemungkinan untuk membicarakan agama sebagai suatu yang umum dan objektif. Dalam daerah pembicaraan itu diharapkan dapat dikemukakan hal umum yang menjadi titik kesepakatan para penganut agama, meskipun hal itu merupakan hal sulit.
Ada berbagai definisi agama yang menunjukkan adanya pemahaman yang berbeda secara individual. Para ilmuwan Barat yang mengajukan pendapatnya di antaranya sebagai berikut.
1.      Wallace yang mengatakan bahwa agama adalah “suatu kepercayaan tentang makna terakhir alam raya”.
2.      E.S.P Haynes yang berpendapat bahwa agama merupakan “suatu teori tentang hubungan manusia dengan alam raya”.
3.      John Morley yang mengartikan agama sebagai “perasaan-perasaan kita tentang kekuatan-kekuatan tertinggi yang menguasai nasib umat manusia”.
4.      James Martineau yang mendefinisikan agama sebagai “kepercayaan tentang Tuhan yang abadi, yaitu tentang jiwa dan kemauan Ilahi yang mengatur alam raya dan berpegang pada hubungan-hubungan moral dengan umat manusia”.
Dengan demikian, peran agama dalam kehidupan manusia —manusia modern atau manusia primitif sekalipun— hakikatnya tidak terdapat perbedaan, yaitu memenuhi kecenderungan alamiahnya, yakni kebutuhan akan akspresi dan rasa kesucian. Perbedaan mungkin muncul bagi masyarakat modern, yang menganggap kesucian itu lebih merupakan sesuatu yang terletak dalam daerah kehidupan mental, spiritual, atau rohani. Dalam kehidupan modern, memang terjadi kecenderungan untuk mencoba merendahkan arti kehidupan materiel, sehingga kadang terjadi pencampuradukan segi kehidupan rohani dan segi kehidupan materiel.[6]
Dalam analisis Weber, kenyataan tersebut merupakan fenomena sosiologis tentang tingkah laku manusia, yang mengiginkan makna hidup berupa gagasan tentang tindakan rasional dalam memahami dan menafsirkan tingkah laku manusia yang dikenal dengan konsep Tipe Ideal dalam Protestianisme-nya.
Menurut Weber, dalam tindakannya, manusia (sosial) terdiri atas empat jenis tipe ideal sebagai berikut.
1.      Tingkah laku zweckra-tional atau rasional tujuan; yaitu tingkah laku manusia cita-cita rasional. Bentuk orientasi ini mencakup perhitungan yang tepat dan pengambilan sarana-sarana yang paling efektif untuk tujuan-tujuan yang dipilih dan dipertimbangkan dengan jelas, atau sasaran. Pandangan ini merupakan kerangka pikir yang sangat  utilitarian atau instrumentalis. Kerangka pikir ini logis, ilmiah, dan ekonomis.
2.      Bagian kedua dari tindakan manusia (sosial) adalah tingkah laku wertrational atau rasional nilai. Menurut model ini, seorang pelaku terlibat dalam nilai penting yang mutlak atau nilai kegiatan yang bersangkutan. Dia lebih mengejar nilai-nilai daripada memperhitungkan sarana-sarana dengan cara yang evaluative-netral. Manusia yang mengatakan kebenaran apa adanya, jelas bertindak secara rasional nilai. Juga semua tingkah laku manusia yang rasional mengandung sebuah unsur rasionalitas-nilai, karena pencarian tujuan-tujuan secara logis dalam segala bentuk mengandaikan bahwa tujuan-tujuan itu dinilai oleh si pelaku.
3.      Jenis yang ketiga adalah tipe ideal untuk tindakan afektif atau emosional; yaitu tingkah laku yang berada di bawah dominasi perasaan secara langsung. Di sini tidak ada rumusan sadar, nilai-nilai, atau kalkulasi rasional sarana-sarana yang cocok. Tindakan ini sama sekali emosional dan, karena itu, tidak rasional.
4.      Kategori selanjutnya adalah tindakan manusia yang ia beri nama tradisionalis. Ketegori ini mencakup tingkah laku yang berdasarkan kebiasaan yang muncul dari praktik-praktik yang mapan dan menghormati otoritas yang ada. Jenis tingkah laku ini tidak bisa dianggap cukup sebagai tingkah laku yang “dimaksudkan” dan sebagai “tindakan sejati”. Weber juga memperhitungkan intensionalitas sebagai sesuatu yang implisit dan relatif berada di bawah sadar. Dalam segi ini, tindakan tradisionalis bukannya tidak sama dengan tindakan afektif.
Keempat jenis tindakan sosial itu merupakan cara-cara individu memberi makna pada tindakan mereka dan itu merupakan kodrat manusia yang berusaha memberi arti tertentu kepada hidupnya. Oleh karena itu, manusia adalah suatu makhluk religius; bahkan kegiatan-kegiatan ekonomisnya mengandaikan pandangan dunia umum tertentu yang ia pakai untuk membuat kehidupannya dapat dipahami.[7]
Ilustrasi lain diungkapkan oleh Nurcholis Madjid dengan mengambil penyebab terjadinya perang dengan motif agama. Menurutnya, sebelum zaman industri, perang sering terjadi karena dorongan agama. Setelah zaman industri tiba, perang seringkali didorong oleh rebutan harta. Ia melanjutkan, “Kita tidak dapat begitu saja menilai bahwa perang atas nama agama adalah lebih mulia daripada perang atas nama harta, kecuali jika kita termasuk dan ada dalam pihak golongan agama yang berperang itu sendiri.
Jika berada dalam agama ketiga, di luar kedua agama yang sedang berperang, kita akan tersenyum mengejeknya karena memandang peperangan yang terjadi antara dua agama —yang bukan agama kita— adalah suatu ironi dan tragedy, karena merupakan usaha saling menghancurkan oleh kedua belah pihak yang (dalam pandangan kita) sama-sama palsu (karena kedua agama itu bukan agama kita dan tidak seperti agama kita). Jadi, perang itu adalah suatu perang atas nama kepalsuan, dan kedua belah pihak tidak masuk akal untuk berperang.
Tetapi apabila kita termasuk dan berada di pihak suatu agama yang berperang dengan agama lain, dengan sendirinya perang itu adalah perjuangan sebuah kebenaran untuk melawan dan menghancurkan kepalsuan. Adakah nilai hidup yang lebih tinggi daripada perjuangan menegakkan kebenaran melawan kepalsuan? Kita pun akan meyakini adanya unsur kesucian dalam perang serupa itu, sehingga mati di dalamnya dianggap kehormatan yang besar debagai syahid atau martir.[8]
Untuk itu, agar tidak terjebak pada pemahaman agama yang sempit, alangkah baiknya jika kita kembali kepada penegasan Nabi Muhammad saw. yang menyatakan bahwa sebaik-baiknya agama di sisi Allah adalah al-hanifiyyat al-samhah; semangat kebenaran yang lapang dan terbuka; agama yang bersemangta kebenaran dan lapang serta terbuka untuk menolong manusia. Jika saja semangat yang demikian itu diterapkan pada tataran kehidupan sehari-hari, agama bisa jadi mendorong semangat bagi setiap tindakan sosial.[9]
Menurut Beni Ahmad Saebani, kelompok sosial memiliki tujuan yang sama. Mereka merasa, bahwa dalam kelompok itulah tujuan dapat dicapai. Tujuan yang ada diperkuat oleh keyakinan atas ajaran agama, suatu keyakinan yang berisikan penjelasan dan petunjuk untuk memahami gejala-gejala dan pengalaman-pengalaman, serta penjelasan yang menghasilkan kehidupan rasional dan kenyataan hidup yang dialami manusia yang irrasional. Kelompok beragama menerima berbagai realitas. Kehidupan adalah riil, nyata, dan jelas, tetapi dalam mengarungi kehidupan tidak semua yang riil dapat dirasionalisasi. Keyakinan orang beragama, bahwa umur, rezeki, dan jodoh ada di tangan Tuhan adalah riil, meskipun ketiganya tidak dapat dipastikan oleh manusia.[10]
Prilaku sosial yang merujuk pada ajaran agama yang ditopang oleh sistem ritual dan tujuan ideal dalam beragama, sesungguhnya dimanifestasikan ke dalam bentuk perilaku institusional. Karenanya, sifat dan karakteristik perilaku ini lebih bergantung pada fakta sosial institusional daripada pada sumber ajaran agama itu sendiri. Di lain pihak, perilaku institusional dalam kehidupan sosial keagamaan memasung dinamika intelektual dan dinamika kultural setiap individu yang merupakan potensi eksternal dalam institusi bersangkutan. Dalam bahasa lain, perilaku individu akan dipandang konfrontatif bila dipaksakan memasuki wilayah perilaku kolektif institusional. Loyalitas dan komitmen yang demikian akan diragukan dan secara interaksional terjadi keterasingan individual dan deniasi kultural.[11]
Dalam Islam, bangunan teoretis yang digunakan dalam kerangka berpikir ini dapat dikonseptualisasikan melalui penjelasan konsep berikut.
1.      Institusionalisasi yang dimaksud adalah proses pelestarian perilaku secara structural dan terorganisasi dengan proses interaksi yang terus-menerus sehingga menjadikan perilaku bersangkutan mendarah daging terinternalisasi melalui berbagai simbol-simbol yang dimaknai dan dipahami secara dialogis praktis oleh pelakunya yang ada dalam wadah atau organisasi keagamaan yang sama.
2.      Perilaku sosial keagamaan adalah tindakan-tindakan yang berkaitan dengan segala perbuatan yang secara langsung berhubungan atau dihubungkan dengan nilai-nilai ajaran dan tuntunan agama Islam atau yang menjadi keputusan institusi.
3.      Pemahaman keagamaan yang dimaksud adalah pendekatan yang digunakan untuk menggali kandungan makna, hukum, maksud-maksud, dan isyarat yang terdapat dalam sumber utama ajaran Islam, yaitu Al-Qur’an dan Al-Sunnah atau pendapat ulama yang dipandang sejalan dan sepaham atau representasi dari seluruh cara pandang umat Islam yang berada dalam tubuh yang sama.
4.      Interaksi umat Islam artinya tindakan yang saling berhubungan di antara individu atau perilaku yang diintegrasikan secara structural ataupun kultural sehingga tindakan tersebut menjadi simbol budaya yang terisntitusikan dan tidak banyak membutuhkan penafsiran ulang atau secara relatif mutlak disepakati dan menjadi sandaran perilaku bagi generasi berikutnya di kalangan anggota organisasi keagamaan tertentu.
5.      Ulama, kyai, dan ustadz yang dimaksud adalah tokoh agama yang dipandang mampu dan professional dalam menyelesaikan berbagai masalah keagamaan, baik masalah ritual maupun sosial. Ulama, kyai, dan ustadz hierarkisnya jelas. Ustadz sebagai guru yang mengajar di pesantren tidak serta merta kyai atau ulama, tetapi ulama dan kyai biasanya sekaligus sebagai ustadz. Ustadz yang dikategorikan setingkat kyai adalah ulama yang memiliki kapabilitas keilmuan yang diakui oleh komunitas tertentu. Sebagaimana seorang pengasuh pondok pesantren atau mubaligh, yang tingkat jam terbangnya dalam berceramah cukup tinggi dan popularitasnya meluas akan dipanggil kyai oleh komunitas muslim tertentu karena dipandang memiliki ilmu yang luas dan tinggi, serta profesional, misalnya ahli dalam bidang ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu falak, ilmu ushul fiqh, ilmu Bahasa Arab, ilmu fiqh, dan seorang mujtahid.[12]
Sedangkan interaksi antarumat beragama diarahkan oleh ajaran-ajaran agama itu sendiri sehingga kemungkinan diarahkan oleh norma-norma yang berlaku sangat dominan. Tradisi dan kebudayaan lokal dapat diartikan juga sebagai salah satu penganut agama dengan label organisasi masyarakat dan keagamaan tempat pemeluk agama itu beraktivitas. Adaptabilitas dalam perilaku keagamaan sengaja dibentuk atau terbentuk karena interaksi yang satu arah. Proses mengarahkan perilaku sehingga menjadi homogen adalah bagian dari visi dan misi dalam lembaga keagamaan.[13]


DAFTAR PUSTAKA



Kahmad, Dadang. Sosiologi Agama (Potret Agama dalam Dinamika Konflik, Pluralisme, dan Modernitas). Bandung: CV Pustaka Setia. 2011.

————— Sosiologi Agama. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2009. Cet. 5.

Saebani, Beni Ahmad. Sosiologi Agama: Kajian tentang Perilaku Institusional dalam Beragama Anggota Persis dan Nahdlatul Ulama. Bandung: PT Refika Aditama. 2007.






[1] Dadang Kahmad, Sosiologi Agama, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009, Cet. 5, hlm. 5
[2] Ibid., hlm. 6
[3] Ibid., hlm. 14
[4] Ibid., hlm. 19
[5] Dadang Kahmad, Sosiologi Agama… hlm. 164.
[6] Ibid.,  hlm. 161-162.
[7] Ibid., hlm. 163-164.
[8] Ibid., hlm. 165.
[9] Ibid., hlm. 166.
[10] Beni Ahmad Saebani, Sosiologi Agama: Kajian tentang Perilaku Institusional dalam Beragama Anggota Persis dan Nahdlatul Ulama, Bandung: PT Refika Aditama, 2007, hlm. 6.
[11] Ibid., hlm. 8
[12] Ibid., hlm. 25.
[13] Ibid., hlm. 29.

Reaksi:

0 komentar: