Bakat, Menurut Andrea Hirata

Bakat laksana Area 51 di Gurun Nevada, tempat di mana mayat-mayat alien disembunyikan: misterius! Jika setiap orang tahu dengan pasti apa bakatnya maka itu adalah utopia[1]. Sayangnya utopia tak ada dalam dunia nyata. Bakat tidak seperti alergi, dan ia tidak otomatis timbul seperti jerawat, tapi dalam banyak kejadian ia harus ditemukan.
Banyak orang yang berusaha mati-matian menemukan bakatnya dan banyak pula yang menunggu seumur hidup agar bakatnya atau dirinya ditemukan, tapi lebih banyak lagi yang merasa dirinya berbakat padahal tidak. Bakat menghinggapi orang tanpa diundang. Bakat main bola seperti Van Basten mungkin diam-diam dimiliki seorang tukang taksir di kantor pegadaian di Tanjong Pandan. Seorang Karl Marx[2] yang lain bisa saja sekarang sedang duduk menjaga wartel di sebuah kampus di Bandung. Seorang kondektur ternyata adalah John Denver[3], seorang salesman ternyata berpotensi menjadi penembak jitu, atau salah seorang tukang nasi bebek di Surabaya ternyata berbakat menjadi komposer besar seperti Zuybin Mehta. Namun, mereka sendiri tak pernah mengetahui hal itu. Si tukang taksir terlalu sibuk melayani orang Belitong yang kehabisan uang sehingga tak punya waktu main bola, sang penjaga wartel sepanjang hari hanya duduk memandangi truk yang menjulur- julur dari printer Epson yang bunyinya merisaukan seperti lidah wanita dalam film Perempuan Berambut Api , kondektur dan salesman setiap hari mengukur jalan, dan lingkungan si tukang nasi bebek sama sekali jauh dari sesuatu yang berhubungan dengan musik klasik. Ia hanya tahu bahwa jika mendengarkan orkestra telinganya mampu melacak nada demi nada yang berdenting dari setiap instrumen dan hatinya bergetar hebat. Sayangnya sepanjang hidupnya ia tak pernah mendapat kesempatan sekali pun memegang alat musik, dan tak juga pernah ada seorang pun yang menemukannya. Maka ketika ia mati, bakat besar gilang gemilang pun ikut terkubur bersamanya. Seperti mutiara yang tertelan kerang, tak pernah seorang pun melihat kilaunya
Karena bakat sering kali harus ditemukan, maka ada orang yang berprofesi sebagai pemandu bakat. Di Amerika orang-orang seperti ini khusus berkeliling dari satu negara bagian ke negara bagian lain untuk mencari pemain baseball potensial. Jika—satu di antara sejuta kemungkinan—orang ini tak pernah menghampiri seseorang yang sesungguhnya berbakat, maka hanya nasib yang menentukan apakah bakat seseorang tersebut pernah ditemukan atau tidak, pelajaran moral nomor empat[4]: Ternyata nasib yang juga sangat misterius itu adalah seorang pemandu bakat! Hal ini paling tidak dibuktikan oleh Forest Gump, jika ia tidak mendaftar menjadi tentara dan jika ia tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di barak pada suatu sore maka mungkin ia tak pernah tahu kalau ia sangat berbakat bermain tenis meja. Ritchie Blackmore juga begitu, kalau orang tuanya membelikan papan catur untuk hadiah ulang tahun mungkin ia tak pernah tahu kalau dia berbakat menjadi seorang gitaris classic rock.[5]



[1] Sistem sosial politik yg sempurna yg hanya ada dl bayangan (khayalan) dan sulit atau tidak mungkin diwujudkan dl kenyataan (KBBI). Harapan yang sulit atau tidak mungkin menjadi kenyataan.
[2] Tokoh dunia yang mengemukakan teori sosialisme dan komunisme.
[3]John Denver adalah penyanyipencipta lagu, dan aktivis politik Amerika Serikat yang membawakan lagu-lagu berirama country dan folk rock pada medio pertama tahun 70-an. Lirik lagu di awal kariernya sering berisi protes tentang keadilan sosial dan perang. Walaupun demikian, Denver juga dikenal dengan lagu bertemakan lingkungan hidup.
[4] Pelajaran moral bernomor adalah anekdot yang menjadi salah satu ciri khas tulisan Andrea Hirata pada masterpiecenya Tetralogi Laskar Pelangi.
[5] Andrea Hirata, Laskar Pelangi (Yogyakarta: Bentang Pustaka, 2005). hlm. 95-96.

Reaksi:

0 komentar: