Kesucian Manusia

Pagi hari. Sendirian di belakang rumah, Sarah sedang berdiam sibuk dengan kucekan bajunya. Bak cucian warna merah pudar, bukan, sebenarnya itu lebih layak disebut pink karena pudar dilahap usia menemani sarah yang sendirian di rumah. Atas diamnya, suara air yang mengucur dari keran seolah ingin berkata, “Sarah, adakah sesuatu yang menggundahkanmu yang dapat ku basuh?”. Sarah diam, dan air tetap mengalir. Ia tetap melakukan tugas yang katanya “keibuan” itu, walaupun sebenarnya mencuci adalah tugas seluruh manusia. Gadis anggun berkerudung yang berbasah-basah dengan sabun detergen ini sedang menyimpan pandangan yang dalam di pikirannya. Satu hal yang tak terjangkau oleh keran air, bak cucian merah, naungan atap, sinar matahari, bayangan pohon, dan lompatan burung jalak di dahan-dahan.
Ia berpikir tentang manusia. Tentang keadaan manusia yang mewarnai seperti perbedaan sosial, kesejahteraan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa dengan berbagai latar belakang. Kali ini seolah ia mengambil peran yang sama seperti keran air, bak cucian merah, naungan atap, sinar matahari, bayangan pohon, dan lompatan  burung jalak di dahan-dahan yang dapat memandang manusia seperti adanya. Mereka juga berpikir tentang apa yang manusia lakukan dan apa tujuannya, mungkin. Hanya saja Sarah tidak menghiraukan “pikiran” benda-benda itu. Sifat, sikap, dan perbuatan manusia yang berbeda-beda kemudian dapat dimengerti antara yang menjalani kebaikan dan keburukan. Semua tergantung niatnya.
Selain kebaikan dan keburukan, kehidupan manusia juga dihiasi permasalahan-permasalahan. Permasalahan-permasalahan yang ada cukup membuat akalnya tidak dapat mengerti dengan mudah. Bukan pada apa yang kelihatannya terjadi, tetapi karena permasalahan itu yang telah begitu rumit. Politik, pendidikan, ekonomi, birokrasi, pemerintahan, kedaerahan, korupsi, narkoba, PSK, bencana, kriminal. Sebut saja ruwet. Semakin mencoba mengerti, semakin tidak mengerti. Perhatikan saja keadaan negeri ini. Dari mana dapat diurai akar masalahnya.  Perbedaan sebagai manusia itu indah, tetapi juga rawan pecah. Sarah berpikir apakah bisa ia analogikan kerumitan itu seperti daster bermotif warna-warni milik ibunya yang sedang ia kucek dengan sungguh-sungguh. Jika iya, ingin dia remas-remas permasalahan itu dengan geram. Setidaknya perbuatan-perbuatan mereka yang kotor. Yang ia dapati hanya senyuman, masa iya manusia disamakan dengan cucian.
Pagi itu suasana sedang sepi. Penghuni rumah tengah sibuk dengan tanggung jawab masing-masing. Ayah dan ibunya ke pasar. Hari ini ada menu spesial yang mau dimasak untuk keluarga. Adik-adiknya bermain di taman kota. Hari ini adalah hari libur. Sejumlah burung dalam sangkar berkedip-kedip mata ke arah burung-burung pipit yang bernyanyi di dahan-dahan. Semut-semut berbaris rapi membantuk jalur sepanjang dinding rumah bagian bawah. Sepertinya mereka tak memiliki hari libur.
Sarah ingat pesan dalam sebuah pengajian. Manusia pada dasarnya memiliki fitrahnya yang suci. Berarti manusia pada dasarnya baik. Syaikh Abdul Qadir Jailani menerangkan:
Makhluk pertama yang diciptakan Allah Swt. dari Cahaya Ilahi Yang Mahaindah adalah cahaya Muhammad Saw. Ruh Muhammad adalah hakikat semua wujud. Ia adalah awal dan hakikat alam semesta. Nabi Muhammad Saw. menyatakan hal ini dalam sabdanya, “Aku berasal dari Allah dan orang beriman berasal dari diriku.” Allah Swt. menciptakan semua ruh dari ruhnya di alam penciptaan pertama dengan sebaik-baik bentuk.
Kemudian Dia mengutus ruh untuk turun kepada tingkatan penciptaan terendah, ke alam dunia ini, ke alam materi, atau alam jasadi.
Kemudian Kami kembalikan dia kepada (tingkatan) yang terendah. (Q.S al-Thin: 5).
Kemudian Dia memerintahkan mereka untuk turun ke alam materi, alam air, api, tanah, dan eter, lalu mereka menjadi jiwa manusia. Dari alam inilah Dia menciptakan raga:
Darinya Kami ciptakan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan, lalu darinya Kami bangkitkan kamu sekalian untuk kedua kalinya. (Q.S Thaha: 55).
Setelah semua tahapan ini, Allah memerintahkan ruh untuk masuk ke dalam raga, dan atas kehendak-Nya, ia memasukinya:
Maka apabila telah Ku sempurnakan kejadian dan Ku tiupkan ke dalamnya ruh-Ku … (Q.S Shad: 72)
Seiring bergulirnya waktu, ruh-ruh itu mulai terikat kepada daging serta melupakan asal dan sumpah yang mereka ucapkan di alam arwah. Di sana, Allah bertanya kepada mereka, “Apakah Aku Tuhanmu?” dan mereka menjawab, “Ya!” Mereka melupakan janji dan sumber mereka; lupa jalan pulang mereka. Namun, Allah Maha Penyayang, sumber segala pertolongan dan keselamatan bagi makhluk-Nya. Dia mengasihi mereka sehingga diturunkan-Nya kitab-kitab suci dan para rasul untuk mengingatkan mereka akan sumber azali mereka.
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami (dan Kami perintahkan kepadanya): “Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang, dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah …”. (Q.S Ibrahim: 5)
Maksudnya, “Ingatkanlah ruh-ruh itu akan masa-masa ketika mereka masih menyatu dengan Allah.”[1]

Allah menghendaki ruh itu kembali berarti kasih sayang-Nya begitu tinggi. Sarah melanjutkan renungannya, masih dengan kucekan di tangan. Dalam Islam kesucian mencakup ruang lahir dan batin.
Kesucian adalah pelajaran pertama yang diajarkan sebelum memasuki materi-materi ibadah yang lain. Hingga masalah istinja’ pun diajarkan. Kebersihan dalam shalat harus ditegakkan. Kebersihan dalam keseharian adalah kewajiban. Kebersihan merupakan sebagian dari iman. Berkewajiban makan dan mencari rezeki yang halal. Berniat yang baik dalam setiap tindakan dan ibadah menyimbolkan kesucian batin manusia yang diinginkan Dzat Yang Maha Rahman. Hingga seolah-olah tidak boleh ada kotoran yang melekat di tubuh manusia yang diisi ruh itu. Harus membersihkannya dengan wudlu lima kali sehari. Lahir dan batinnya harus dinetralkan dengan puasa. Nyaris sebenarnya manusia tidak diharapkan oleh Tuhan untuk terkena, bersentuhan, dan melihat hal-hal kotor. Hingga ucapan pun harus dijaga agar kotoran tidak mengekor. Bertaubat merupakan salah satu cara kembali ke kesucian dari dosa-dosa kelam.
Sarah tiba pada akhir kucekannya. Ia bilas long dress ibunya kemudian menjemurnya di bawah terik matahari. Ia pandangi pakaian basah yang menitikkan air bilasan itu. Sarah berpikir bahwa seolah pakaian ini menangis karena perlakuan tidak enak selama dicuci, sekaligus bahagia karena ia nanti dapat kembali suci. Persis seperti manusia yang bertobat menyesali perbuatannya dengan sepenuh penyesalan hingga mengalirkan air mata. Kemudian tidak mengulangi perbuatan dosanya sepanjang sisa hayatnya. Manusia itu telah menyucikan diri. Seolah daster itu bernyawa, lirih Sarah berkata padanya, ''Setelah disucikan kamu termasuk orang yang mendapatkan keberuntungan''. Ada setitik air jatuh dari matanya. Kalimat itu mungkin ia tujukan kepada dirinya sendiri yang sedang penuh harapan. Sudah waktunya shalat Dhuha, dengan membaca istighfar Sarah masuk ke dalam.




[1] Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, Sirr al-Asrar wa Muzhhir al-Anwar fi ma Yahtaju Ilayhi al-Abrar terj. Zaimul Am (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2008).

Reaksi:

0 komentar: