Perbedaan Pendidikan Antara Islam Dan Barat

Pada sesi pertemuan terakhir mata kuliah Kapita Selekta Pendidikan Islam dosen memberikan keterangan mengenai perbedaan antara pendidikan Islam dengan pendidikan Barat. Menurut beliau hal ini dipengaruhi oleh basis need kondisi sosial kemasyarakatan yang membentuknya. Antara dunia Barat dan dunia Islam ada perbedaan perkembangan yang dialami oleh masayarakatnya. Hal ini dapat ditelusuri secara kesejarahan.
Adakalanya romantika historis itu penting. Kita dapat melihat, seolah cerita sejarah itu adalah cermin yang memantulkan peristiwa yang terjadi di masa lalu sebagai pelajaran untuk manusia yang hidup di masa kini, atau seperti pita film yang bercerita dan dapat dibedah satu persatu. Peradaban lahir dari kebudayaan. Kebudayaan lahir dari kebiasaan yang terjadi pada suatu masyarakat yang diwariskan secara turun temurun. Dari sini lahirlah pendidikan.
Sudah lama unsur perbedaan antara pendidikan Islam dan pendidikan Barat dipersoalkan. Orang Barat bangga atas penemuan modernitas dan ilmu pengetahuan empirisnya. Kehidupan mereka kemudian membentuk karakter pendidikan yang sekuler yakni memahami dari sudut kebendaan atau keduniawian. Hal ini berbeda dengan Islam yang mengetengahkan kepercayaan terhadap kehidupan akhirat dahulu, diikuti dengan nilai-nilai yang membawa kebaikan hidup bersama dari kehidupan di dunia dengan di akhirat kelak. Ajaran yang diwariskan ini yang kemudian membentuk karakter pendidikan Islam.
Baik masyarakat Islam maupun Barat memiliki latar belakang sejarah yang panjang. Eropa pernah mengalami masa-masa kelam di abad pertengahan di mana rasionalitas manusia ditundukkan sedemikian rupa dengan dogma agama. Sebelum abad pertengahan, budaya suku-suku dan etnis juga kental di Eropa dan banyak mengalirkan pertumpahan darah dalam peperangan-peperangan perebutan kekuasaan. Akan tetapi jauh sebelum abad pertengahan,  bahkan sebelum Masehi, pada suatu wilayah yang disebut Asia Kecil yang sekarang diantaranya adalah— Yunani pernah mengalami zaman keemasan dengan kemasan pemikiran-pemikiran cemerlang para filsuf yang membawa pencerahan bagi masyarakatnya. Kemudian budaya ini runtuh dalam gejolak politis perebutan kekuasaan, perang, dan menurunnya kualitas generasi berikutnya. Adapula Kekaisaran Romawi yang telah beertahan selama 1480 tahun mulai dari tahun 27 SM hingga 1453 M. setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi, maka jatuhlah peradaban Barat tidak lama kemudian.
Masyarakat Islam, secara nilai, sebenarnya sudah ada sejak diutusnya rasul-rasul terdahulu dalam kepercayaan agama ini. Hanya saja bentuknya adalah ajaran tauhid atau pengesaan Tuhan, jadi tidak mengambil Islam sebagai nama. Silih bergantinya rasul adalah untuk mengingatkan masyarakat yang tengah menyimpang untuk kembali ke jalan kebenaran menuju kebahagiaan dalam kebaikan untuk selamat di akhirat dan bahagia selama menjalani kehidupan di dunia. Ajaran semenjak rasul pertama tidak selalu sama, hal ini karena perintah yang diturunkan disesuaikan dengan kondisi sosial masyarakat dan perkembangan masalah yang terjadi. Hanya saja, seperti disebutkan di atas, aspek pengesaan Tuhan betul-betul tidak berubah. Secara garis besar ajaran kebaikan yang disampaikan masih tetap relevan dengan saat sekarang. Hingga pada akhir masa rasul ke-24 dalam kepercayaan Islam yakni Nabi Isa as. hingga rasul terakhir Nabi Muhammad Saw. terjadi periode kekosongan selama lebih dari 500 tahun. Selama kurun waktu ini, nilai-nilai sakral spiritual religius ketauhidan telah banyak berubah. Pada masa ini juga mulai tumbuh bibit kejahiliahan.
Jahiliah adalah istilah di dalam Islam untuk merujuk pada suatu zaman pra-Islam di mana pada waktu itu, secara kebudayaan, masyarakat telah banyak melakukan perbuatan yang tidak berperikemanusiaan. Banyak norma dan sistem yang disusun bukan atas akal sehat kemanusiaan sehingga mengabaikan nilai-nilai sosial. Pertumpahan darah, pembunuhan, dan kemiskinan merajalela. Keadaan sosial didominasi budaya primordial yang hanya bersifat elitis dengan hukum rimba, yakni siapa yang kuat ia yang berkuasa menindas suku lain dan dapat bertindak segalanya. Pada zaman ini norma-norma dan nilai-nilai kebaikan hanya berdasarkan asumsi yang dipengaruhi oleh perilaku kesukuan dan garis keturunan. Kebaikan menjadi begitu buram. Arti jahiliah sendiri adalah kebodohan. Namun kebodohan yang dimaksud adalah kebodohan dalam perilaku kemanusiaan. Sedangkan bangsa Arab sendiri pada waktu itu telah mampu mengelola sistem jasa yang menyejahterakan seperi suku Quraisy, budaya syair, dan telah mengenal ilmu astronomi.
Pengalaman manusia dalam menjalani kehidupan ketika berhadapan dengan permasalahan menumbuhkan upaya untuk dapat mengatasi masalah tersebut. Dari pengalamn ini kemudian lahirlah pengetahuan. Pengetahuan yang disistematisasi dan diwariskan jadilah ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang diajarkan menjadi pendidikan. Hal ini terus berlanjut. Di Barat, pada abad pertengahan terdapat dogma bahwa segala pemikiran yang bertentangan dengan teks kegamaan (Kristen) harus ditolak. Namun dalam kehidupan, banyak larangan tersebut yang tidak sesuai dengan atau bahkan menghalangi kebenaran temuan dan pengamatan yang dilakukan oleh kaum cendekiawan. Maka timbullah gejolak sosial. Setelah berbagai tragedi dan insiden lahirlah renaissans dan humanisme. Renaissans untuk menjawab kerinduan akan kegemilangan budaya Yunani-Romawi yang pernah berjaya, tetapi dengan bentuk yang lebih baru. Sedangkan humanisme adalah istilah umum untuk berbagai jalan pikiran yang berbeda yang memfokuskan dirinya ke jalan keluar umum dalam masalah-masalah atau isu-isu yang berhubungan dengan manusia.[1] Dari sini peradaban Barat lebih tertarik untuk mendalami masalah-masalah humanistik atau kemanusiaan dan kebendaan. Unsur-unsur kehidupan kemanusiaan itu kemudian tercakup dalam keilmuan humaniora. Oleh karena itu pendidikan yang kemudian diwariskan bercorak antroposentris atau berpusat pada kemanusiaan sebagai tolok ukur dasar. Lebih dari itu, sekularisme yang menitikberatkan pada kebendaan melahirkan skema berpikir objektif, rasional, dan dapat diindra (empiris).
Islam, seperti yang telah disebutkan di atas, sampai saat ini pun masih mewariskan nilai-nilai ajaran dari generasi ke generasi. Nyaris tidak ada yang berubah. Perdebatan-perdebatan yang terjadi seputar ajarannya atau bagaimana cara yang tepat dalam menyikapi kalimat-kalimat tersurat dan tersirat dala al-Qur’an hanyalah persoalan mencari dan menemukan bagaimana agar ajaran Islam itu tetap sesuai dengan kondisi zaman. Hal ini bukan berarti Islam harus berubah di setiap zaman. Agama pada hakikatnya, selain tuntutan yang menuntun manusia ke jalan kebenaran menuju keselamatan di akhirat kelak, ajarannyaselain ibadahjuga  tetap harus relevan dengan perkembangan zaman sehingga dapat dilaksanakan.
Permasalahan manusia dan zaman selalu berkembang. Oleh karena itu pengkajian terus dilakukan. Hal ini kemudian muncul dalam perdebatan-perdebatan. Asal tidak disikapi secara ekstrim atau fanatik, itu akan memberikan dampak positif. Oleh karena ajaran Islam yang berasal dari perintah ketuhanan berdasarkan firman Allah Swt., maka corak pendidikan Islam adalah teosentris, atau berpusat pada ajaran-ajaran ketuhanan.
Pendidikan Barat dan Islam, sekuler dan agamis, ketuhanan dan kebendaan. Menurut hemat penulis, pengertian secara dikotomi tersebut menimbulkan sesat pikir yang masih terjadi sampai sekarang. Ada yang hanya pro pada pendidikan sekuler dan ada pihak yang cuma pro pendidikan Islam. Padahal ada nilai-nilai manfaat yang dapat diterapkan dalam pendidikan sekuler, dan keluhuran nilai-nilai Islam juga tidak terbantahkan. Allah menjadikan segala sesuatu berpasang-pasangan. Darinya terbentuk keseimbangan. Pertemuan antara proton yang bermuatan positif dan elektron yag bermuatan negatif menghasilkan listrik. Terjadinya siklus siang dan malam menghasilkan pengaturan waktu bagi manusia. Demikian pula konvergensi pemahaman pendidikan sekuler dan pendidikan Islam menghasilkan kekreatifan dan kearifan dalam menjalani hidup di dunia dan tetap selamat di akhirat. Bagi yang telah beragama Islam dengan pandangan konvergen ini tentu merupakan keberuntungan. Bagi yang belum mengenal Islam ada baiknya mempelajari, sehingga mengenal Islam lebih baik lagi.





[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Humanisme

Reaksi:

0 komentar: