Di Mahameru, Diselubungi Cahaya

  

۞ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشۡكَوٰةٖ فِيهَا مِصۡبَاحٌۖ ٱلۡمِصۡبَاحُ فِي زُجَاجَةٍۖ ٱلزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوۡكَبٞ دُرِّيّٞ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٖ مُّبَٰرَكَةٖ زَيۡتُونَةٖ لَّا شَرۡقِيَّةٖ وَلَا غَرۡبِيَّةٖ يَكَادُ زَيۡتُهَا يُضِيٓءُ وَلَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡهُ نَارٞۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٖۚ يَهۡدِي ٱللَّهُ لِنُورِهِۦ مَن يَشَآءُۚ وَيَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَٰلَ لِلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ٣٥ [سورة النّور,٣٥]
Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Udara mulai menipis. Terasa sesak untuk menarik nafas. Juga semakin dingin. Pendakian ini harus diselesaikan. Di sekitaran masih gelap. Ada akar-akaran yang harus dilalui dengan hati-hati. Beban berat sudah ditinggalkan di bawah, di tempat yang aman. Menjelang pagi tanah mulai basah oleh embun. Terasa licin. Semakin ke puncak pepohonan mulai jarang. Hanya ditumbuhi semak-semak yang jamak ditemukan. Juga bebatuan berlumut yang menonjol-menonjol. Tampaknya keras dan akan sakit jika terjatuh ke atasnya. Debu pasir juga di sana-sini. Peluh pun mulai membajiri. Hanya head lamp kecil yang menemani perjalananku. Di sepagi ini. Menuju cahaya. Menuju puncak. Untuk melihat keindahan yang tidak dapat disempurnakan dengan gambaran.
Kawan, makhluk yang paling indah adalah cahaya. Kehadirannya menerangi, menyingkapkan tabir kegelapan. Yang aku yakini bahwa cahaya itu bisa hadir ke dalam hati. Saat kita kalut. Jadi, wujud cahaya itu multidimensi.
Cahaya selalu mulia. Banyak yang suka dengan sifat-sifat cahaya dan mencoba memakai nama yang bersinar itu. Di antara orang tua ada yang menamai anaknya dengan Cahaya, Caya, Cahya, Cahyo, Cahyadi, Cahyono, Cahyanto, Nurul, Fajar, atau yang berkaitan dengan cahaya seperti Lintang, Bintang, Mishbah, atau Intan yang dapat memantulkan cahaya dengan indah. Kepada orang yang dicintai juga terkadang disematkan gelar “cahaya hatiku”. Aku sampai berpikir sejauh itu. Cahaya juga dipilih untuk nama perusahaan seperti Sinar, atau program pemerintah Orde Baru dengan beberapa PELITA-nya. Cahaya juga mejadi nama-nama institusi pendidikan, yayasan, nama masjid dan jalan. Mungkin yang dimaksud dengan menamakan jalan dengan cahaya adalah sebagai kritik kepada pemerintah agar mampu menghadirkan listrik penerang lampu jalan. Banyak juga judul lagu yang berebutan menamai cahaya. Lagu religi khususnya.
Pada zaman penjajahan Dai Nippon ada tri khidmat yang dipropagandakan terhadap negara-negara taklukan yakni Jepang pemimpin Asia, Jepang pelindung Asia, dan Jepang cahaya Asia. Entahlah, apa pada waktu itu negara yang penduduk aslinya adalah suku Ainu ini sudah digelar dengan Negara Matahari Terbit. Ketika itu hanya ada satu perintah yang tidak diterima oleh para ulama’ Islam di tanah air, yaitu seikerei. Yakni membungkukkan tubuh ke arah matahari terbit. Soal ini akan ku jelaskan nanti.
       Ada penyembah api dan ada penyembah matahari. Mereka takjub “berlebihan” kepada cahaya kedua benda itu. Bangsa Masir Kuno dan Jepang (silam) adalah penyembah matahari. Bangsa Persia kuno adalah penyembah api yang konon memiliki api yang tidak padam selama ribuan tahun. Pemuja api masih dapat ditemukan di India. Mereka yang mempertuhankan cahaya api dan matahari itu belum mampu melihat yang melampaui cahaya, yaitu pencipta cahaya. Masih panjang jalannya dari cahaya itu sebelum sampai kepada Pencipta yang sebenarnya, yakni Tuhan yang tidak diciptakan. Tuhan umat Islam Allah Swt. juga memiliki nama (dalam Bahasa Arab: asma’) yang dapat diartikan sebagai cahaya yaitu An-Nuur. Allah sendiri yang memilih nama itu. Kemudian mengikut umatnya menamakan anak-anak dan juga masjid dengan nama Nuur. Ada yang menggabungkannya dengan bahasa Jawa menjadi Nur Cahyo. Umat Islam menyebut Nama-nama Allah Swt. untuk menambah khidmat dalam berdoa. Di antaranya An-Nuur. Hal ini berbeda dengan menuhankan cahaya. Apatah ada yang menuhankan cahaya? Jawabannya ada di seantero dunia di bebagai peradaban yang telah tenggelam. Mugkin ada yang bertahan sampai-kini. Tapi entah dalam bentuk apa.

Suatu hal yang tidak dimiliki cahaya adalah, cahaya tidak bisa mempertahankan dirinya sendiri. Cahaya tak dapat disentuh, tak dapat digenggam, tak dapat dikurung. Entah suatu saat nanti. Selama ini manusia hanya mengarahkannya dengan pantulan-pantulan. Atau harus membangkitkannya dengan energi agar ia ada. Cahaya yang kita saksikan bergantung pada tersedianya energi. Jika energi itu habis, habislah ia. Laiknya matahari akan habis pula masa aktifnya suatu saat nanti. Apalagi hanya api yang dinyalakan. Sehebat apa pun manusia berusaha menghidupkan pada akhirnya akan padam. Karena, bukan untuk itu api dan matahari diciptakan. Manusia dapat mengambil manfaat dari mereka, tetapi tidak untuk menyembahnya. Tuhan, mestilah yang menguasai segalanya. Bukan sesuatu yang berbatas masa. Tuhan juga seharusnya tidak bisa mati. Tuhan seharusnya bukanlah sesuatu yang membutuhkan energi macam matahari dan api.
Ada kunang-kunang berkedap-kedip di kegelapan. Seperti kunang-kunang itu yang suatu saat nanti akan mati. Api dan matahari pun sama. Mereka tak lebih adalah makhluk biasa yang ditundukkan untuk kepentingan manusia. Tapi aku tidak membenci cahaya. Aku hanya tak sampai hati dan akal melihat orang yang mengagungkan cahaya, mempertuhankan cahaya. Tetapi kini pengagungan terhadap api dan matahari itu tidak terasa ditanamkan oleh berbagai media hiburan seperti film dan kartun.  Anak-anak pun kini menjadi pemuja elemen. Padahal api itu hanya elemen, mendasar. Bukan yang menciptakan. Bukan yang abadi. Juga yang ada di matahari.
Baiklah kita menerima sifat-sifat cahaya. Bisa kita manfaatkan untuk menerangi rumah dan jalan yang gelap. Menunjukkan lajur yang tepat saat berkendara, atau menerangi para pencari ikan dengan kail litriknya. Cahaya yang menerangi membuat malam tidak begitu ngeri. Cahaya juga hadir di dalam hati. Manusia juga mengalami sisi gelap dan pekat di hatinya. Perlu cahaya untuk menyingkapkannya. Yang tidak mendapatkan cahaya akan terus mengalami kesesatan. Suka menabrak di sana-sini. Juga membahayakan orang lain. Maka, diperlukan cahaya. Cahaya yang bisa membimbing hidup. Bukan api, matahari, ataupun bulan. Cahaya itu dari dalam diri. Cahaya itu ditunjukkan oleh Islam.
Islam hadir membawa cahaya. Secara harfiah ataupun makna. Nabinya adalah cahaya. Secara harfiah maupun makna. Yang dijanjikan adalah cahaya. Secara harfiah maupun makna. Yang dituju juga cahaya. Secara harfiah maupun makna. Islam dipenuhi cahaya, secara harfiah atau makna.
Islam hadir di tengah-tengah masyarakat jahiliah yang berperilaku amoral. Islam menjadi pelita bagi orang-orang yang mau beriman. Nabi Muhammad juga memiliki nama an-Nuur yang berarti cahaya. Tutur kata Nabi Muhammad menenteramkan hati. Orang yang melihat Muhammad akan menaruh simpati. Nabi Muhammad bisa dipercaya di tengah-tengah masyarakat yang hampir tidak memiliki budaya. Dalam kurun waktu hanya sekitar 23 tahun ia telah berhasil mengubah keadaan masyarakat 180. Islam dan Nabi Muhammad Saw. telah benar-benar menjadi cahaya.
Seorang muslim hidupnya diselubungi cahaya. Ada iman di dalam hati, itu adalah cahaya. Akal yang ia miliki adalah cahaya. Ilmu yang ia miliki adalah cahaya. Malaikat yang ia yakini ada adalah cahaya, yang bergerak melampaui kecepatan cahaya. Wudlu dan shalatnya menjadi cahaya. Al-Qur’an yang ia baca menjadi cahaya, dalam kuburnya nanti. Nabi Muhammad Saw. adalah cahaya. Tuhannya adalah pencipta gelap dan cahaya. Madinah adalah kota yang bermandikan cahaya kenabian. Dengan izin-Nya, seorang muslim dapat menyeberangi jembatan sekecil rambut dengan kecepatan cahaya. Menghindari neraka dan nanti akan diberi mahkota dari cahaya di surga. Cahaya itu berlimpah, menyelubungi dari zahir sampai ke hati. Cahaya-cahaya itu mengandung berkah yang membawa kebaikan lagi dan lagi. Cahaya-cahaya itu diperoleh atas izin-Nya. Maka seorang muslim tidak boleh sombong dalam melihat selainnya.
Karena Allah Swt Pencipta cahaya, Ia dapat memperjalankan Nabi Muhammad Saw. dari Mekah ke Palestina laksana kecepatan cahaya. Di antar oleh malaikat yang diciptakan dari cahaya. Kemudian menaikkannya hingga Sidratul Muntaha melebihi kecepatan cahaya dengan izin-Nya. Dan, malam itu juga Nabi Muhammad Saw. dikembalikan ke tempat tidurnya semula. Itulah peristiwa yang dikenal dengan Isra’ Mi’raj. Sepulang dari perjalanan langit, beliau memperoleh cahaya berupa shalat yang diperintahkan untuk dikerjakan 5 waktu dalam sehari. Di langit, Nabi Muhammad juga bertemu dengan para nabi terdahulu. Sungguh, sebuah perjalanan yang penuh cahaya.
Tetapi ada syarat untuk dapat berkelimpahan cahaya seperti itu.Syarat untuk dapat menerima cahaya-cahaya itu adalah dengan memiliki hati yang bersih. Hati ibarat cermin, jika ia kotor maka akan menjadi buram sehingga tidak akan dapat menerima cahaya. Mereka yang larut ke dalam cahaya-cahaya itu akan menjadi pecinta. Pecinta Allah Swt. yang senantiasa diesakan. Hingga mereka kembali kepada pencipta cahaya itu, hidup mereka penuh kebahagiaan. Di dalam cinta dan pencahayaan Tuhan.
***
Aamiin. Dzikir dan doa telah dipanjatkan. Shalat fajar telah dilaksanakan. Tinggal beberapa meter lagi untuk mendaki. 10 menit lagi sampai, dan aku akan dapat melihat matahari terbit dari puncak Mahameru ini. Keindahannya tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, menyaksikan dari potret foto pun “rasanya” tidak akan sama. Sinar itu semburat cerah. Cukup untuk membayar lelah dan payah. Para pendaki lain sudah di sana.  3676 m di atas permukaan laut. Di atas awan langit yang bergulung-gulung laksana ombak. Dan tumbuhan yang bergoyang dihempas angin seolah menyambut dengan kata, “Selamat datang pendaki puncak yang tinggi.”
Indahnya ciptaan Allah Swt. Bagaimana dengan yang menciptakan? Di atas puncak ini ku agungkan Mahasuci Allah, segala puji hanya bagi Allah, tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah, Allah Mahabesar. Tidak ada daya untuk melakukan kebaikan, dan kekuatan untuk menolak keburukan kecuali atas pertolongan Allah. Aku bersujud kepada Pencipta selimut malam. Saat ini ditempatku berada telah disingkapkan. Aku akan menangis. Menangis sejadi-jadinya. Menangisi kekuasaan Tuhanku. Dan aku ingin bersatu kembali kepada cahaya itu. Ya Allah, mohon Engkau jaga imanku.

________________________
Magna Fathir

Mahameru, 12 April 2001

Reaksi:

0 komentar: