Melodi Yang Membangkitkan Kejayaan Masa Lalu

Sudah lima tahun semenjak beranjak dari bangku sekolah. Pada waktu itu darah panas sebagai remaja sedang bergejolak. Gejolak itu seolah dapat menentang dan meruntuhkan dunia. Syair-syair kedigdayaan pun mengalir. Dari dasar pengetahuan yang masih tipis dan dorongan emosi yang fluktuatif. Pada waktu itu ada rasa puas menunjukkan kepada dunia siapa kita dan berakhir pada sebuah kenangan.
Pasca setiap kedigdayaan menjadi kenangan maka remaja itu mulai menapaki pintu dunia realistis. Ia turun dari awan kesombongan remaja sedepa demi sedepa bertahap menuju alam realistis. Alam di mana segala sesuatu tidak mudah didapatkan begitu saja seperti adegan dalam film kartun, atau tatkala tangan tinggal menengadah ke hadapan orang tua. Pada waktu itu berani adalah kata kunci. Bahkan bila perlu, kitalah yang paling mengerti dunia dengan berbagai pandangan kebenara ''filosofis'' tentang dunia ala remaja yang sepotong-sepotong dan dapat berubah seiring hembusan angin di kemudian waktu. Mencari pembenaran atas setiap tindakan, sekalipun itu menggelisahkan orang lain. Kini masa itu telah lewat. Alam realistis menjadi lebih terasa sempit. Sempit sekali. Ego harus diturunkan. Kita kembali harus menghadapi dunia. Kali ini “yang sebenarnya”.
Dalam masa remaja kita ada masa-masa di mana ada identitas zaman yang melingkupi. Tren, gaya rambut, model berpakaian, idola, musik, tayangan televisi, siaran radio kegemaran, handphone, sosial media, google, dan sebagainya. Semua hal yang menjadi pernak-pernik masa itu akan tersimpan ke dalam sebuah CD ROM atau sistem penyimpanan cloud di memori masing-masing individu. Apabila diputar kembali dapat membangkitkan gairah masa lalu, untuk sesaat.
Pada mula tahun-tahun 2000 ada sebuah tren musik baru bergenre alternative rock yang dibawakan oleh beberapa band asal Amerika Serikat, diantaranya adalah Linkin Park. Ketika itu kelahirannya booming di seantero dunia, sepertinya. Setidaknya hal ini dapat dilihat dari begitu populernya kaus bermotif Linkin Park yang beredar di pasaran. Hits seperti Run Away, Somewhere I Belong, Numb, In The End, Breaking The Habit dan sebagainya menjadi lagu-lagu populer yang menduduki tangga lagu Bill Board.
Di setiap masa juga memiliki figur idola yang sedang berjaya. Contohnya sepak bola. Kalau tidak salah biasanya seorang fans klub bola yang mengagumi suatu tim sepakbola karena kesan pertama yang didapatkan tatkala baru pertama-tama mengenal dunia sepakbola. Tentu saja yang berkesan adalah yang dominan kemenangannya. Juga ada figur-figur sepakbola tertentu yang menjadi ciri kemenangan di masa-masa itu. Anehnya, walaupun pergantian masa telah melahirkan juara yang berbeda, kekaguman itu tidak menguap begitu saja. So, jadilah ia identitas zaman yang dimiliki individu.
Pukul 03.00 dinihari. Mata tak dapat terpejam akibat minum kopi yang diminum justru ketika memasuki pukul 12 malam. Gara-garanya harus membuat judul skripsi sebanyak lima buah. Inspirasi baru datang sekira pukul 11 malam. Dipadu dengan pematangan konsep dan kemungkinan-kemungkinan yang ada, sampai pukul 12.30 lima format judul skripsi baru dapat diprint. Saat masih pukul 12 serasa masih ada aspek yang kurang yang menjadi perhatian dari judul-judul yang dibuat, maka solusinya adalah minum kopi kemasan sebagai solusi instan. Woila, Berhasil! Otak kembali terang. Tapi sejurus kemudian kelelahan membuat perasaan ingin tidur tak dapat ditolak. Judul skripsi sudah jadi. Akan tetapi mata ternyata tetap terjaga. Ia setia terhadap pengaruh kafein yang telah mempengaruhi otak si empunya.
Akhirnya, diputarlah lagu-lagu masa lalu itu. Melodinya membangkitkan gairah perantauan dan dalam mengingat ''abad kejayaan'' remaja yang sudah bertahun-tahun ditinggalkan. Rasanya seperti terkena efek ''Ada Aq*a''. Rasa kejayaan masa lalu bangkit kembali. Dari sini, terkadang kita perlu melihat ke masa lalu agar mendapatkan gairah yang diperlukan seperti ''abad kejayaan'' remaja itu. Manurut sebuah tulisan, masa lalu itu seperti kaca spion yang menghadap belakang pada sebuah mobil dan kaca depan adalah masa depannya. Kita perlu melihat ke belakang melalui kaca spion yang kecil sebagai pengingat dalam menentukan dan menemukan posisi yang membawa keselamatan, tetapi jangan melupakan kaca depan yang lebih besar dan perjalanan yang ditempuh sebagai tujuan yang perlu lebih banyak perhatian.

Reaksi:

0 komentar: