70 Tahun Indonesia Merdeka, Tidak Dipuji Seperti Malaysia dan Singapura

70 Tahun Indonesia Merdeka via kututrit.blogspot.com
Bagaimana suatu bangsa mengungkapkan kesyukuran atas kemerdekaan yang diraihnya dapat dilihat dari bagaimana bangsa tersebut telah meraih kemajuan-kemajuan, selain gegap gempita melaksanakan pesta. Pertanyaan besar bagi Indonesia, apa yang telah diraihnya setelah 70 tahun merdeka. Ketidaktertataan masih merajalela di mana-mana. Himpitan hidup dari segi ekonomi, pendidikan, dan pekerjaan diiringi situasi politik yang tidak menentu-berbasis kepentingan pribadi/kelompok- masih menohok sekian puluh juta rakyat. Tak dimungkiri, selama ini kita senantiasa berdiskusi mencari sebab musababnya Indonesia belum jauh dari ambang kemunduran, tetapi hasil diskusi itu tidak pernah menjadi solusi kecuali sedikit. Masa-masa memeringati hari kemerdekaan pun masih penuh nuansa perjuangan pembebasan dari penjajahan, seharusnya sudah dapat dilihat dan disebutkan kemajuan-kemajuan apa yang nyata dicapai dan bagaimana citra Indonesia ke depannya akan dibawa. Dus, sampai hari ini kita masih dalam tahap perjuangan.
Pernik Merdeka Day Malaysia via sweet-tempt.blogspot.com
Di ASEAN, di wilayah kebudayaan Melayu meliputi Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam, serta Indonesia. Keadaan Indonesia tidak menarik bagi pemberitaan atau pun ulasan media internasional. Korupsi-makin menggurita-, kemiskinan, kemerosotan moral, penganguran, dan infrastruktur yang sedari zaman kemerdekaan masih diperjuangkan. Dapat disimak bagaimana gegap gempita Merdeka Day Malaysia dan 50 Tahun Singapura Merdeka mendapat sorotan khusus-perspektif baik- dari National Geographic Channel dan Deutch Welle (DW), baik di jaringan televisi berlanggananan maupun laman-laman berita di dunia maya. Dua bangsa yang merdeka itu-bahkan ada yang tertinggal 20 tahun dari Indonesia-telah mencapai kemajuan-kemajuan jauh ke dalam setiap lini, khususnya sumber daya manusia. Ketahanan ekonomi dan patriotisme bukan lagi menjadi soal yang senantiasa diperbincangkan karena telah menyatu ke dalam pemikiran dan telah terwujud dalam tindakan. Padahal, kedua negara itu pernah ''diperangi'' oleh Indonesia pada masa Orde Lama. Kini, rakyat kita mengemis mencari kerja di sana.

Peran Persemakmuran
Pernik 50 tahun Singapura via straitstimes.com
Tak dimungkiri, peran persemakmuran ada bagi Malaysia dan Singapura yang tergabung di dalam Persemakmuran Kerajaan Inggris. Contoh negara yang juga telah mencapai kemakmuran adalah Australia dan Selandia Baru. Namun perlu diketahui, tidak semua koloni persemakmuran telah mencapai kemakmuran. India yang mulai menjelma sebagai raksasa ekonomi juga masih mengalami berbagai pergolakan di dalam negeri, pun demikian dengan Jamaika yang masih berkutat pada hutang dan kemiskinan. Artinya, di bawah naungan persemakmuran tidak serta merta membuat suatu negara anggota menjadi sejahtera. Hal ini kembali kepada semangat kesadaran bangsa tersebut untuk terus membangun negerinya sedemikian rupa sehingga kesejahteraan dan keadilan dirasakan oleh semua. Indonesia masih berkutat pada pelemahan upaya pemberantasan korupsi, keadilan yang belum tegak, kasus kemanusiaan, kedaulatan ekonomi, dan heboh oleh rongrongan penggerogotan wilayah akibat rendahnya wibawa negara yang sering diumpamakan sebagai Macan Ompong. Banyak rakyat kita mengemis-ngemis mencari kerja di Malaysia dan Singapura, bagi yang tidak berizin akan segera tertangkap dan diperlakukan seperti bukan manusia sebelum akhirnya di buang melalui kabupaten di perbatasan yang mulai terkenal karena sering dijadikan jalur pembuangan (baca: deportasi), yakni Nunukan. Perbuatan melintas batas negara tetangga itu semata terjadi karena ingin memeroleh penghasilan demi memenuhi kebutuhan hidup.

Retorika Susah Membangun Bangsa dengan Wilayah Besar
Retorika dan pidato alegoris (perlambangan, ibarat) dalam ceramah-ceramah dan sambutan-sambutan untuk mengelak dari tanggung jawab membangun bangsa sudah sering diperdengarkan. Betapa retorika dan janji yang menyejukkan hati tak kunjung terpenuhi. Kita sepertinya harus bersikap seperti anak-anak Indonesia yang menjadi korban tayangan super hero, menunggu Pahlawan Luar Biasa untuk memenangi pertarungan. Padahal, selama perspektif tidak dirubah, kedisiplinan dan tanggung jawab tidak digubah, kepentingan kelompok dan golongan akan mendominasi. Seperti pendapat salah satu pakar, akibat Indonesia gagal menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa, citra Indonesia tidak lebih dari sebagai sebagai konsep imajiner semata. Kembali, Indonesia tetap dipandang sebelah mata. Indonesia sudah lama di-ninabobo-kan oleh pembangunan yang menghancurkan selama Orde Baru, dan tampaknya reformasi juga berjalan setengah hati. Citra parlemen sekarang pun tak berbeda jauh dari era parlemen zama Orde Lama silam yang silih berganti tetapi hanya ''debatable''. Kembalinya militer berkuasa harus dibuang dalam pikiran.

Membangun Langkah
Indonesia dengan wilayah, potensi, dan daya tampung besar via id.wikipedia.org
Apa atau siapa yang salah? Sikap atau pertanyaan yang cenderung menyalahkan ini tidak akan membangun dan merubah apa-apa. Selama perspektif tidak berubah jangan harap perilaku membangun akan dapat digubah. Sinergi harus terjadi antara pemangku kebijakan, pelaksana kebijakan, pengawal kebijakan, dan masyarakat Indonesia yang menjadi sasaran. Setelah perspektif berubah, para pemegang kewenangan jangan kembali mengibuli rakyat dengan retorika yang membangkitkan harapan semu dan birokrasi yang berbelit. Menyusun upaya dan melakukan kerja yang sesungguhnya adalah harapan bagi pemegang amanah kekuasaan. Perilaku penyelenggara negara yang berubah serta program yang baik dari pemerintah akan diikuti secara jama'ah oleh rakyat dibawah dalam bentuk kerja keras karena optimisme telah terbangun. Rakyat dan Indonesia tidak harus menunggu revolusi atau reformasi kembali.

Pepiling
        Perlu diingat juga, selama ini azas ketuhanan-yang terkandung dalam sila pertama Pancasila-minim sekali dipetik dan hanya menjadi mainan saat terjadi pesta politik demokrasi. Telah lama, mungkin kita semua berdosa kepada-Nya karena acapkali dilupakan sehingga masih terjadi mala di negeri-yang katanya- subur ini. Apa pun pendapat tentang Pancasila, kita sedikit-banyak telah tidak mematuhinya sebagai konsensus bersama. Atas segala kritik yang terucap, tetap Dirgahayu Republik Indonesia.

Reaksi:

0 komentar: