8 Darurat Indonesia Per September 2015

Keadaan darurat tentu saja adalah situasi yang tidak diharapkan, bahkan bagi Negara Indonesia. Tetapi apa mau dikata, keadaan darurat itu terjadi dan menuntut tindakan nyata mulai dari pencegahan, penanggulangan, maupun penindakan. Keadaan darurat ini ada yang disebabkan oleh faktor alam, kelalaian, hingga kesengajaan. Ada delapan situasi darurat per September 2015 yang terjadi di Indonesia seperti berikut.
1. Darurat Narkoba    
Menolak Narkoba via bloggustian.blogspot.com
Pengaruh negatif adiksi narkoba telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan dengan berbagai motif yang menyelubungi. Ada dorongan karena himpitan ekonomi bagi produsen dan penjualnya. Di antara konsumennya di antaranya ada korban bullying atau anak dengan latar keluarga broken home, pelarian dari tekanan stres, sekedar coba-coba, sampai gaya akibat pengaruh lingkungan. Kiprahnya dalam merusak fisik, mental, dan masa depan anak bangsa sangat luar biasa. Cakupannya pun tidak semata golongan urban, namun juga telah mencapai kehidupan rural (pedesaan). Bahkan, menerobos batas-batas keamanan dan lintas negara/benua.
2. Darurat Ekonomi
       
Perang mata uang via jakartakita.com
Konon, kurs Rupiah terhadap Dollar telah mencapai titik paling nadir di tahun 2015 yakni mencapai Rp 14.326,- yang menurut analis ekonomi sebagai ambang batas psikologis kurs keuangan nasional. PHK pun telah melanda berbagai lini sektor usaha dari yang padat karya seperti tekstil hingga padat modal seperti pertambangan. Namun, posisi mata uang Rupiah terhadap mata uang asing senantiasa dihadapkan pada simalakama. Yakni, apabila terlalu kuat kegiatan ekspor atau penanaman modal akan terhambat, sebaliknya apabila jatuh PHK massal membayang. Hal ini ditengarai oleh kalangan pengusaha disebabkan oleh ketergantungan Indonesia atas produk impor masih sangat tinggi.
3. Darurat Korupsi
        
Tanamkan antikorupsi sejak dini via merdeka.com
Korupsi berjamaah sudah bukan rahasia lagi. Tindakan menghancurkan bangsa ini dilakukan dengan melakukan pencurian terhadap uang negara yang notabene adalah uang rakyat yang diambil dari sistem pajak. Pajak adalah iuran rakyat terhadap Negara dalam rangka penyelenggaraan negara yang baik. Maka, uang negara adalah uang rakyat yang seharusnya kembali ke dalam wujud pelayanan publik yang baik, fasilitas umum yang berfungsi dan memadai, infrastruktur baik dan terpelihara, sampai tercapainya kesejahteraan bersama. Namun, semua itu kandas kala uang rakyat dirampas untuk kepentingan pribadi. Sebelumnya tren korupsi adalah dengan sejawat atau pihak yang berkepentingan, kini tangkapan KPK telah mengungkap korupsi dilakukan oleh pasangan suami istri pemangku jabatan.
4. Waspada Kekeringan
     
Mengais air bersih via foto.tempo.co
Debu, terik, dan kekeringan adalah khas musim kemarau berkepanjangan. Disusul dengan mengeringnya sumber air baku untuk kebutuhan sehari-hari maupun pertanian sehingga terjadi krisis air bersih. Beberapa instalasi air bersih kekurangan pasokan air sehingga kesediaan air harus dipergilirkan. Kendati tidak semuanya, beberapa daerah telah berstatus darurat kekeringan. Di tengah kondisi yang krisis seperti ini, hemat dalam menggunakan air adalah keharusan.
5. Darurat Asap
      
Berkendara dalam asap via antaranews.com
Memalukan, ''ekspor asap Indonesia'' telah mengotori lingkungan kapital negara tetangga. Hal ini berdampak pada memburuknya situasi sektor pariwisata dan lingkungan di Singapura dan Malaysia. BNPB menyatakan enam provinsi di Indonesia dinyatakan darurat asap. Penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pun meningkat. Ironisnya, kejadian ini sudah menjadi ritual tahunan. Baik disebabkan oleh perseorangan maupun karena faktor kesengajaan membakar hutan dan lahan adalah tindakan yang merugikan. Pemerintah tidak dapat serta merta disalahkan, karena mafia juga berperan dalam tidak menaati ketentuan yang tertuang dalam peraturan.
6. Darurat Mafia
      
Indonesia darurat mafia via rakyatmerdeka.co.id
Harga bahan pokok melonjak tajam? Apabila tidak ada kejadian luar biasa yang menyebabkan sumber produksi dan pelaksanaan distribusi terganggu, maka ini adalah ulah mafia. Peraturan susah ditegakkan? Bisa jadi hal ini juga ulah para mafia. Praktik mafia di segala lini turut menghambat kemajuan Indonesia di berbagai lini. Mafia yang pernah terdengar tetapi timbul tenggelam sebagai isu seperti mafia sepakbola, mafia migas, mafi Pelindo II, mafia perizinan, mafia kehutanan, mafia perdagangan, mafia impor, mafia daging sapi, mafia garam, dan segala bentuk mafia lain yang belum terekspos oleh media.
7. Darurat Mental (Kemorosotan Moral)
        
Primitivisme tawuran via catatan-perjalananq.blogspot.com
Apa indikator telah terjadi kemerosotan moral? Indikatornya seperti memudarnya nilai-nilai ketimuran yang berakar dari nilai-nilai agama dan budaya oleh generasi sekarang seperti hormat kepada yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, hilangnya perilaku santun terhadap sesama dalam perkataan dan perbuatan. Merajalelanya seks bebas, mati karena miras oplosan dan korupsi juga dapat dijadikan indikator. Sikap apatisme yang acuh tak acuh atau autisme yang heboh. Perilaku ini berkembang seiring masuknya nilai-nilai pragmatisme dan konsumerisme melalui arus globalisasi dan sangat terbukanya media informasi dengan berbagai ekses yang ditimbulkan. Masih mabuk kepayang di atas kata modern seolah kemajuan adalah dengan meninggalkan budaya yang berkarakter. Sementara Eropa tengah berupaya keras mengembalikan nilai-nilai budaya yang pernah hilang.
8. Darurat Erupsi
      
Gunung Sinabung masih butuh perhatian via sinarharapan.co
Erupsi gunung berapi, keadaan darurat yang tak bisa dielakkan. Di Indonesia di tahun 2015 ada beberapa gunung berapi yang aktif menggoyangkan tubuhnya, mengalirkankan lava pijar, hingga memuntahkan debu vulkanik. Gunung-gunung tersebut di antaranya ialah Gunung Sinabung, Gunung Raung, Gunung Selamet, Gunung Lokon, dan Gunung Gamalama.

Reaksi:

0 komentar: